Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Back to Windows setelah 8 Tahun Menggunakan Distro Linux

Mungkin sebagian dari teman saya mulai dari teman medsos hingga teman kantor pasti tahu kalau saya pengguna GNU/Linux atau Distro Linux. Ada alasan kenapa saya memutuskan kembali ke OS Windows setelah sekian lama menggunakan GNU/Linux. Ya pastilah ada alasan karena mengapa saya balik lagi ke Windows. Baiklah, disini akan saya kupas mengapa saya beralih kembali ke OS Windows.

Back to Windows setelah 8 Tahun Menggunakan Distro Linux

Pada waktu itu, mungkin tahun 2013 kalau ndak salah sebearnyasaya telah mengenal linux sejak 2009. Saya memutuskan menggunakan single OS GNU/Linux setelah saya privat ke Mas Hatta. Salah satu orang/pegawai Dinas Kominfo Surabaya yang gedungnya ada di sebelah masjid Al-Muhajirin. Sebelum mengenal mas Hatta, saya cukup kerepotan cari guru/mentor untuk belajar GNU/Linux. Meski ada Komunitas Linux Arek Suroboyo (KLAS) hasilnya percuma kalau tempat markasnya “maaf” selalu tutup (mungkin mereka ada kesibukan lain/kerja). Setidaknya sudah 3-4 kali saya mampir ke markas KLAS yang ada di lantai paling atas di mall bersejarah HiTech Mall Surabaya. Saya pun sudah telpon untuk janjian ya hasilnya percuma.

Saya sempat putus asa dalam belajar OS GNU/Linux ini. Setelah berjalan waktu, saya dikenalkan oleh guru SMK saya ke orang dinas KOMINFO Surabaya. Guru SMK saya ini punya kenalan dari dinas KOMINFO mungkin karena saya telah memenangkan Juara 1 berturut-turut lomba desain Gimp dan Inkscape sebanyak 2 kali se-SMA-SMK Surabaya. Jadi ceritanya saya diajak magang ke Dinas Kominfo Surabaya. Kalau ndak salah, saya diberi waktu 2-3 hari kalu ndak salah lupa aku. Di sana saya dikenalkan dengan Mas Hatta. Akhirnya pun saya punya guru atau mentor GNU/Linux deh. Waktu itu, pemerintah kota Surabaya mengkampanyekan Surabaya Goes Open Source. Dan mengeluarkan Distro Soerya berbasis Ubuntu. Sekarang entah, Linux Soerya masih hidup atau enggak tapi kayaknya enggak deh (jadi keinget proyek IGOS Nusantara sekarang udah ke versi Takada). Di sana saya mulai instal GNU/Linux dan distro yang di pasang adalah Ubuntu 12.04. Kemudian saya instal wvdial memakai WiFi sana. Untuk mengkoneksikan USB Modem Smartfren. Dan saya pun bisa memantapkan diri menggunakan Single OS GNU/Linux.

Back to Windows setelah 8 Tahun Menggunakan Distro Linux

Sejak saat itu, saya betah di GNU/Linux dan setiap ada permasalahan kompabilitas software. Pasti saya akan cari alternatif aplikasi lain yang bisa jalan di GNU/Linux. Saya pun sudah pernah gonta-ganti Distro Linux seperti IGOS Nusantara, BlankOn, Manjaro, Mandriva, LXLE, Linux Lite, Bodhi Linux, Slax, Elementary, KDE Neon, Xubuntu, dan akhirnya merasa lebih nyaman dengan Linux Mint sekian lama. Terakhir saya menggunakan Linux Mint 19.1 dan kemudian saya memutuskan untuk beralih ke Windows 10. Yang saya suka di GNU/Linux itu ringan, tampilan UI mudah dikustomisasi seperti dibuat tampilan Mac OS hingga Windows, banyak pilihan DE (Desktop Environtment) tinggal install, gak pusing mikirin malware. Pokoknya enak, nyaman, dan gak gampang bosan. Cuma ada beberapa kekurangan di GNU/Linux seperti masalah kompabilitas software dan hardware ya karena kebanyakan pakai aplikasi Windows jadi mau gak mau saya harus menyesuaikan, update software yang cukup ribet misal update Chrome/Opera cukup ribet waktu itu saya biasanya menghapus Chrome lama, lalu download Chrome baru kemudian instal. Cara ini cukup ribet dan makan waktu (saya tidak tahu apakah ada cara cepat, karena saya sudah googling sana kemari masih belum menemukan jawaban yang pas). Yang paling gampang yang saya ketahui ya update aplikasi telegram.

Back to Windows setelah 8 Tahun Menggunakan Distro Linux

Tepat di bulan September ini, setelah dua tahun menabung, saya membeli laptop baru dengan merk Lenovo yang sudah include Windows 10 dan Office original. Untuk kisah bagaimana kok akhirnya saya memilih laptop brand lenovo anda bisa klik link disini. Gara-gara kebiasaan memakai Windows 10 di kantor. Entah kenapa saya lebih nyaman dengan OS ini teruttama kemudahannya dan fitur bawaan laptop yang emang didesain untuk Windows. Emang sih sempet waktu itu sempet rame masalah lamanya Windows Update yang nggak bisa didisable. Tapi lama-kelamaan Windows 10 makin stabil dan lancar. Apalagi ada info muncul Windows 11 dengan tampilan sudut membulat, tidak kaku kayak UI Windows 10. Sempat saya kepikiran untuk instal single OS GNU/Linux. Tapi ya eman juga sih, padahal udah dapet bawaan Windows 10 dan Office ori kok malah dihapus. 

Selain itu, kenapa saya harus balik ke Windows adalah karena saya rencananya menggunakan aplikasi video editing Filmora. Karena kemudahaanya dan banyak efek-efek menarik yang siap pakai. Dan juga ada rencana membeli produk Affinity buat pengganti produk Adobe (psd, ai). Rencananya sih kalau Affinity gak bisa, ya saya harus langganan Adobe. Mau gak mau ya gimana lagi, karena standar global. Masak kita harus memaksakan customer?

Oh iya, pas pakai Windows 10 di laptop Lenovo ini. Banyak fitur bawaan laptop yang sangat membantu saya Lenovo Vantage yang keren berisi tentang system info hingga detail lain (maaf gak bisa jelaskan lebih detail karena saya masih mendalami). Kalau saya instal GNU/Linux jelas lah gak ada, kalau ada masalah kita cari sendiri lah, itupun kalau dijawab komunitas. Terkadang ada yang jawaban yang kurang mengenakkan. Meski sudah ada di google jawabannya harusnya kan disambut baik, memang lebih baik dipandu sama ahlinya langsung (offline ya) yang sudah terbiasa menggunakan GNU/Linux.

Intinya jika kita menggunakan Laptop dengan include Windows 10 selain nyaman dan mudah terdapat fitur tambahan seperti Lenovo Vantage yang keren. Kalau ada masalah tinggal bawa aja ke service center tanpa harus cari solusi masalah teknis. Karena SAYA INI END USER, cuma tinggal pakai saja buat menunjang kerjaan kecuali kalau saya kerjanya bidang server. Selain itu ada fitur menarik dari bawaan laptop, flip to boot. Jika kita buka laptop maka si laptop akan menyala otomatis. Njiiir kayak Macbook dong…. Keren… Karena yang saya pakai saat ini adalah brand Lenovo, saya kurang tahu kalau brand lain.

Saya rasa cukup sampai disini saya, curhatan mengenai kembali ke Windows setelah 8 tahun menggunakan Linux. Disini saya tidak menjelekkan Linux. Semua OS baik itu Windows, GNU/Linux, Mac OS pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Tiap individu juga pasti memiliki prefernsi sendiri terhadap suatu OS. Oh iya, meski saya sudah beralih ke Windows 10, saya masih tetap menggunakan software open source seperti Inkscape, Gimp, Blender, Shotcut, dan Libre Office. Kalau dilihat software Blender ini semakin pesat perkembangannya, saya harap software open source lain bisa mengikuti jejak Blender 3D ini. Maaf jika saya ada salah kata, terima kasih telah berkunjung di blog ini. Bye bye di tulisan berikutnya.

Posting Komentar untuk "Back to Windows setelah 8 Tahun Menggunakan Distro Linux"